Minggu, 27 Desember 2015

Analisis wawancara tentan Pembelajarang Matematika pada 10 anak di MA Muhammadiyah Sukarame, Bandar Lampung



Kelompok 3
Nama          : 1. Asro Nur Aini                 1411050261
                     2. Fitri Hidayah                    1411050298
                     3. Fitri Nurrohmah               1411050300

Tugas          : Psikologi Pendidikan

Menganalisis Hasil Wawancara di MA Muhammadiyah Sukarame, Bandar Lampung

          Berdasarkan hasil wawancara yang telah kami lakukan di MA Muhammadiyah pada siswa kelas X, XI, dan XII tentang pembelajaran Matematika. Setelah kami melakukan wawancara terhadap 10 siswa, kami dapat menyimpulkan bahwa dari 10 siswa tersebut ada yang menyukai pelajaran Matematika, ada yang sedang-sedang, bahkan ada yang tidak menyukai mata pelajaran Matematika sama sekali. Namun, dari 10 siswa yang telah kai wawancara mayoritas dari 10 siswa tersebut banyak yang tidak menyukai pelajaran matematika. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Metode pembelajaran yang diterapkan guru kepada siswa kurang menarik atau membosankan.
2.      Guru kurang optimal dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga siswa tidak menerima materi pelajaran dengan maksimal.
3.      Kurangnya perhatian guru terhadap siswa.
4.      Adanya diskriminasi pada siswa yang unggul dengan siswa yang biasa saja.
5.      Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa.
Dari 10 siswa yang telah kami wawancara, adapun materi pembelajaran yang lebih mereka sukai adalah maetri Matrik, Invers, dan Turunan. Namun, kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan dalam pembelajaran Matematika seperti menghafal rumus, mengoperasikan rumus, dan sebagainya. Selain belajar di dalam sekolah, alternatif lain yang mereka lakukan untuk memahami pembelajaran Matematika diantaranya;
1.      Kerja kelompok atau belajar bersama pada saat jam kosong,
2.      Belajar sendiri dengan cara mengulas kembali materi – materi yang telah di sampaikan oleh guru dan mengerjakan soal – soal latihan yng ada, serta
3.      Beberapa dari mereka mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah,
Banyak siswa yang ingin menguasai pembelajaran Matematika. Namun, karena adanya berbagai kesulitan dalam memahami pelajaran Matematika menjadikan nilai mereka tidak konsisten, terkadang naik dan terkadang turun. Hal ini membuat mereka kurang puas dengan hasil yang mereka dapat, sehingga mereka termotivasi untuk lebih giat belajar agar mereka dapat mencapai nilai seperti yang mereka inginkan. Adapun harapan mereka terhadap model pembelajaran seorang guru Matematika dalam proses belajar mengajar kedepannya diantaranya adalah:
1.      Guru menggunakan metode pembelajaran yang mudah dipahami oleh siswa dan menarik siswa untuk lebih dalam mempelajari Matematika sehingga siswa tidak merasa bosan,
2.      Guru tidak mendiskriminasi siswa dan guru lebih memperhatikan siswa yang kurang mampu memahami materi, dan
3.      Guru diharapkan lebih aktif dalam melakukan komunikasi terhadap siswa.

menganalisis perbedaan SMA dan MA



Nama               : Fitri Hidayah
Npm                : 1411050198
Jurusan / kelas : Matematika / E
Mata Kuliah    : Psikologi Pendidikan

Menganalisis Perbedaan SMA dan MA
1.      Sekolah Menengah Atas / SMA
SMA adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
SMA bertujuan diantara menyediakan dan menyiapkan siswa – siswi yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi,  Akademi atau Perguruan Tinggi.
Untuk SMA sendiri ada tiga jurusan diantaranya, Sains (IPA), Sosial (IPS), dan Bahasa. Sedangkan untuk penjurusan di arahkan di kelas XI (kelas 2) dan untuk penjurusan itu pun tidak asal memilih siswa, pihak sekolah melewati guru, akan mengarahkan berdasarkan Nilai yang mereka dapat ketika kelas X. Jadi, ketika kelas X siswa harus benar-benar belajar supaya nilainya bisa dipakai referensi atau patokan kemana mereka akan memilih jurusan. Ketika di bangku SMA jangka pendek adalah siswa akan mendapatkan teori yang akan digabungkan dengan praktek, namun soal praktek, hanya beberapa persen saja di terapkan, sedangkan untuk jangka panjang, siswa SMA lebih dianjurkan untuk melanjutkan jenjang Universitas, namun ada juga yang sebagian yang bekerja. Adapun mata pelajaran pada Sekolah Menengah Atas di antaranya :
Agama, Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Olah Raga), Teknologi Informatika dan Komunikasi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah, Bahasa Asing, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.

2.      Madrasah Aliyah / MA
Madrasah aliyah (disingkat MA) adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan sekolah menengah atas, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Pendidikan madrasah aliyah ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
Adapun tujuan MA sama dengan SMA yaitu untuk mengantarkan siswa memasuki perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi Islam.
Pada tahun kedua (yakni kelas 11), seperti halnya siswa SMA, maka siswa MA memilih salah satu dari 4 jurusan yang ada, yaitu Ilmu Alam, Ilmu Sosial, Ilmu-ilmu Keagamaan Islam, dan Bahasa. Pada akhir tahun ketiga (yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan madrasah aliyah dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi umum, perguruan tinggi agama Islam, atau langsung bekerja. MA sebagaimana SMA, ada MA umum yang sering dinamakan MA dan MA kejuruan (di SMA disebut SMK) misalnya Madrasah aliyah kejuruan (MAK) dan madrasah aliyah program keterampilan.
Kurikulum madrasah aliyah sama dengan kurikulum sekolah menengah atas, hanya saja pada MA terdapat porsi lebih banyak mengenai pendidikan agama Islam.
Pelajar madrasah aliyah umumnya berusia 16-18 tahun. SMA/MA tidak termasuk program wajib belajar pemerintah, sebagaimana siswa sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun. Di Indonesia, kepemilikan madrasah aliyah dipegang oleh dua badan, yaitu swasta dan pemerintah (madrasah aliyah negeri). Adapun Mata Pelajaran yang diberikan di Madrasah Aliyah (MA) diantaranya:
Agama, Kewarganegaraan, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Olah Raga),Teknologi Informatika dan Komunikasi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah, Bahasa Asing, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.
Namun, selain mengajarkan mata pelajaran umum, MA juga ditambah dengan pelajaran-pelajaran seperti:Alqur’an dan Hadits, Aqidah dan Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.



Resensi buku "KABUT Pendidikan di Indonesia"



RESENSI BUKU KABUT PENDIDIKAN DI INDONESIA
Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan
Oleh :

Nama                           : Fitri Hidayah
NPM                           : 1411050298
Dosen Pengampu        : Budy Sugandi, M. Sc.Ed







JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2015/2016

RESENSI BUKU KABUT PENDIDIKAN DI INDONESIA


Judul                                 :Kabut Pendidikan di Indonesia
Penulis                               :Budy Sugandi
Tanggal Terbit                   :Cetak Pertama, Desember 2014
Cetak Kedua, Oktober 2015
Penerbit                             :Say Wawai Publishing
Tebal Halaman                  :xvi +115 hlm, 14 x 21 cm
Editor                                :Ridwan Hardiansyah
Sampul                              :Rio Dermawan
Tata Letak                         :Tri Purna Jaya
ISBN                                 :978-602-71788-0-9
Harga                                :Rp.30.000

1.      Ikhtisar
Penulis Budy Sugandi, M. Sc. Ed  adalah dosen psikologi pendidikan di IAIN Raden Intan Lampung. Ia lahir di desa Ginung-gung, Tolitoli, Sulawesi Tengah, 16 Juni 1988. Ia menyelesaikan SD, SLTP, dan SLTA di Pamekasan, Madura, Jawa Timur dan baru saja menyelesakan studi Masternya dari Institude of Education Sciences Marmara University, Turki dan Braunschweig University of Technology, Jerman tahun 2015. Penuis ini menjelaskan kepada kita bagaimana kegelisahan penulis  dalam memaknai dinamika pendidikan di tanah air. Buku yang berjudul kabut pendidikan di Indonesia ini selain menjelaskan tentang dinamika pendidikan di tanah  air, juga menambahkan suplemen perjalanan pribadi penulis sejak bersekolah Tingkat Dasar di desa hingga jerman. Buku ini lebih tertuju untuk  membandingkan system pendidikan di tingkat internasional antara suatu Negara dengan Negara lain.

2.      Latar Belakang
a.       Melihat semakin meningkatnya minat putra-putri Indonesia untuk melanjutkan pendidikan baik di dalam maupun di luar Negeri.
b.      Memperlihatkan keunggulan dan kekurangan system pendidikan yang ada di Negara lain.
c.       Kegelisahan penulis dalam memaknai dinamika pendidikan diindonesia.
d.      Adanya masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Comunnity yang akan dimulai pada tahun 2015.

3.      Tujuan Penulis
a.       Penulis bertujuan untuk memeberikan pengetahuan mengenai permasalahan dinamika pendidikan di Iindonesia berikut solusi merutut Ia pribadi serta mencoba untuk berbagi pengalaman penulis dari sekolah tingkat dasar hingga kuliah S2 di jerman.
b.      Penulis bertujuan untuk memotivasi para pembaca untuk lebih semangat dalam mengejar beasiswa di luar negri.

4.      Gaya Penulis
Dalam buku ini, penulis menggunakan kata-kata yang baku dan bahasa yang mudah dicerna sehingga bisa dinikmati semua kalangan atapun pembacanya.

5.      Kelebihan buku
a.       Memberikan pengetahuan umum bukan pengetahuan pendidikan semata
b.      penulis sangat jeli dalam melihat keunggulan dan kekuragan yang ada di negara lain, membandingkan, dan mencoba mencari solusi terhadap permasalahan pendidikan di tanah air.
c.       Memberikan pengalaman selama menjadi mahasiswa diluar negeri serta prestasi-prestasi yang telah didapatkan dan ini dapat memotivasi pembacanya.

6.      Kelemahan Buku
a.       Terlalu banyak cerita diawal halaman dan tidak langsung pada permasalahan intinya
b.      Masih kurangnya permasalahan pendidikan di Indonesia nya dan lebih mendominan ke perbandingan pendidikan di luar negeri.

7.      Saran
Untuk bapak budy sugandi, saya menyukai dan menyambut baik karya bapak ini dan terimakasih karena disini bapak mau berbagi pengalaman pribadi bapak kepada kami dari Tinggat Dasar hingga kuliah di jerman.
Menurut saya buku ini sesuatu yang berbeda dari kaya-karya yang lain dan saya berharap kedepannya bapak bisa berkaya lebih memotivasi saya lagi dan melahirkan buku-buku yang lebih berkualitas kembali terutama dalam bidang pendidikan di Indonesia.